Buku Status Kehati Papua

Buku ini menyajikan data dan informasi komprehensif mengenai kondisi keanekaragaman hayati di Papua, wilayah seluas 416.129 km² yang secara administratif kini terbagi menjadi 6 provinsi, yaitu Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya. Secara geologis, Papua terbentuk akibat tumbukan antara Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik (Caroline) sejak jutaan tahun lalu. Bentang alamnya bervariasi, dari dataran rendah dan pesisir hingga pegunungan tinggi, dengan Puncak Jaya (4.884 mdpl) sebagai titik tertinggi. Keunikan geologi dan iklim ini membentuk 22 tipe ekosistem alami yang membentang dari wilayah marin hingga ekosistem nival yang bersalju.

Di ekosistem marin dan perairan tawar, Papua mencakup empat ekoregion laut utama (Samudra Pasifik utara, Teluk Cenderawasih, Laut Seram-Teluk Bintuni, dan Laut Arafura) serta kawasan terumbu karang seluas 4.332,5 km² dan padang lamun seluas 279.531,17 ha. Kawasan Bentang Laut Kepala Burung dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia yang menyimpan sekitar 75% spesies karang keras global serta 1.871 spesies ikan karang (sekitar 73% dari total spesies ikan di Indonesia). Di samping itu, ekosistem perairan tawar seperti sungai dan danau menjadi habitat penting bagi fauna endemik seperti ikan pelangi, serta ekosistem unik danau laut yang dihuni oleh biota turunan laut yang terisolasi.

Di wilayah daratan, ekosistem terestrial mencakup hutan hujan tropis primer seluas lebih dari 17,2 juta ha, hutan rawa, rawa gambut (5,1–8,5 juta ha), mangrove seluas 1,94 juta ha (terutama di pesisir selatan), kawasan karst, savana, hingga hutan pegunungan bawah, pegunungan atas, subalpin, dan alpin. Masuk ke dalam zona biogeografi Australasia yang dibatasi oleh Garis Lydekker, Papua menunjukkan tingkat kekayaan spesies dan endemisitas yang sangat tinggi. Hingga saat ini telah teridentifikasi 7.179 spesies fauna (termasuk 577 spesies fauna terestrial endemik) dan 7.994 spesies tumbuhan serta jamur makro, di mana sekitar 58% flora Papua merupakan spesies endemik. Famili tumbuhan seperti Ericaceae, Gesneriaceae, dan Zingiberaceae bahkan memiliki tingkat endemisitas melebihi 94%.

Upaya pelestarian biodiversitas Papua dilakukan melalui kombinasi konservasi in situ dan ex situ. Papua memiliki 49 kawasan konservasi darat serta kawasan konservasi perairan seluas lebih dari 11,68 juta ha. Selain itu, terdapat terobosan dalam perencanaan ruang, seperti Kawasan Strategis Provinsi Koridor Mahkota Permata Tanah Papua (MPTP), skema Perhutanan Sosial dan Hutan Adat, serta pengakuan Other Effective Area-Based Conservation Measures (OECM) di wilayah kelola tradisional. Pengelolaan alam ini berakar kuat pada kearifan lokal 34 suku besar dan 7 wilayah adat di Papua. Sistem pengetahuan tradisional seperti prinsip Igya Ser Hanjob (“kita berdiri menjaga batas”) pada suku Hatam, zonasi hutan masyarakat pegunungan, serta tradisi perlindungan pesisir seperti Sasi, Egek, Dabom, Tiatiki, dan Sasien terbukti efektif dalam menjaga kelestarian ekosistem.

Meskipun kaya akan biodiversitas, ekosistem Papua menghadapi tekanan antropogenik dan ancaman lingkungan yang semakin serius. Saat ini tercatat 64 spesies tumbuhan dan 23 spesies vertebrata terestrial berstatus kritis (Critically Endangered). Ancaman utama meliputi dampak perubahan iklim (seperti pemutihan karang), deforestasi dan degradasi akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri, pembukaan jalan Trans-Papua, kegiatan pertambangan, perburuan dan perdagangan satwa liar secara ilegal, pemanfaatan hasil hutan dan perikanan yang tidak berkelanjutan, polusi, serta masuknya spesies asing invasif. Oleh karena itu, penguatan komitmen pembangunan berkelanjutan dan integrasi kearifan lokal dengan kebijakan berbasis sains menjadi krusial untuk menjaga warisan hayati Papua bagi generasi mendatang.