Buku Status Keanekaragaman Hayati Bali-Nusa Tenggara

Bali-Nusa Tenggara (mencakup Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur) merupakan kawasan kepulauan unik di zona transisi Wallacea dengan luas daratan mencapai 71.592,92 km² dan wilayah perairan yang tergolong dalam Ekoregion Laut 9 (EL9). Dibentuk oleh konvergensi tiga lempeng tektonik utama, wilayah ini memiliki bentang alam yang bervariasi dengan gradien iklim tajam dari basah di barat hingga sangat kering di timur. Perairannya yang mencakup Selat Lombok, Laut Flores, dan Laut Sawu menjadi bagian dari kawasan Coral Triangle dunia dengan tingkat keanekaragaman hayati laut tertinggi. Berdasarkan Kepmen LH Nomor 694 Tahun 2025, wilayah ini dibagi menjadi 6 ekoregion utama guna menyelaraskan perencanaan tata ruang dan kebijakan IBSAP 2025–2045. Dari sisi ekosistem, daratannya didominasi oleh ekosistem lahan pamah (sekitar 80% atau 5,69 juta ha), karst, pegunungan, serta savana monsun.

Kekayaan keanekaragaman hayati kawasan ini sangat menonjol, menampung 3.459 spesies flora terestrial dengan tingkat endemisitas kelompok spermatofit mencapai 55%—tertinggi dibandingkan Jawa maupun Papua—dengan cendana (Santalum album) sebagai tanaman flagship utama. Di sektor fauna, tercatat 560 spesies burung (102 endemik), 137 mamalia, 76 reptil termasuk satwa ikonik Komodo (Varanus komodoensis), serta ribuan spesies ikan, moluska, dan mamalia laut. Kendati demikian, kepunahan Harimau Bali (Panthera tigris balica) di awal abad ke-20 menjadi pengingat nyata akan kerentanan ekosistem ini.

Untuk menjaga kelestarian tersebut, total kawasan konservasi formal kini mencapai 5,73 juta ha (termasuk dua taman nasional terbaru, yaitu TN Moyo Satonda dan TN Mutis Timau) ditambah kawasan bernilai konservasi tinggi (KBT/OECM) seluas 3,20 juta ha. Upaya konservasi ini diperkuat secara turun-temurun oleh kearifan lokal masyarakat, seperti filosofi Tri Hita Karana, sistem irigasi Subak, dan Awig-Awig di Bali, zonasi hutan tradisional Suku Sasak di Lombok, hingga pemanfaatan pohon lontar di NTT. Namun, kawasan ini tetap menghadapi tekanan berat dari ekspansi pariwisata massal, pencemaran sampah plastik laut, tren deforestasi dan perubahan tutupan lahan (2012–2022), tambang emas ilegal, perdagangan satwa liar, invasi jenis asing seperti Vachellia nilotica, serta ancaman penyakit zoonosis seperti rabies dan antraks. Ke depan, prioritas pengelolaan berfokus pada pengendalian alih fungsi lahan, tata kelola pariwisata berkelanjutan, serta pengintegrasian kearifan lokal ke dalam kebijakan formal.