Buku Status Keanekaragaman Hayati Jawa

Jawa merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati yang kaya, namun menghadapi tekanan antropogenik yang sangat tinggi. Secara biogeografis dan geologis, Jawa terbentang luas 132.603,59 km² dengan populasi sekitar 158 juta jiwa dan kepadatan mencapai 1.200 jiwa/km². Berada di jalur Ring of Fire serta di posisi strategis di Paparan Sunda dekat Garis Wallace, pulau ini menjadi pusat endemisitas sekaligus jembatan persebaran flora dan fauna Asia. Secara fisik, Jawa diapit oleh Laut Jawa yang dangkal dan produktif di utara serta Samudra Hindia yang berarus kuat di selatan. Ekosistemnya didominasi oleh lahan pamah atau dataran rendah (hampir 70%), diikuti oleh ekosistem riparian, pegunungan, rawa, karst, danau, hingga mangrove. Keanekaragaman hayati Jawa mencakup lebih dari 12.800 spesies flora terestrial (601 tumbuhan berbiji dan 34 tumbuhan berspora endemik) dengan spesies ikonik seperti palahlar Nusakambangan dan edelweis Jawa. Di sektor fauna, Jawa memiliki 527 spesies burung, 206 mamalia, 164 reptil, 45 amfibi, 410 ikan air tawar, serta ribuan insekta dan biota laut. Beberapa spesies unggulan (flagship) meliputi badak jawa yang tersisa 79 individu dan elang jawa. Kendati demikian, kerentanan ekosistem terbukti dengan punahnya harimau Jawa pada 1980-an dan pari Jawa pada 2023.

Untuk memitigasi risiko tersebut, Jawa hingga tahun 2024 telah membangun kawasan konservasi daratan seluas 805.366,59 ha—termasuk tiga taman nasional tertua di Indonesia (Ujung Kulon, Gunung Gede Pangrango, dan Baluran)—serta memperluas kawasan konservasi perairan dan area OECM berbasis masyarakat. Upaya perlindungan ini diperkuat oleh kearifan lokal seperti leuweung larangan (masyarakat adat Baduy, Kampung Naga, Cikondang, Kuta), tradisi etnobotani Yadnya Kasada, serta kepercayaan lokal tentang pelestarian cagar alam. Meskipun demikian, Jawa terus dibayangi ancaman serius berupa bencana hidrometeorologis (penurunan muka tanah dan banjir rob), konversi tutupan lahan dan urban sprawl akibat pembangunan infrastruktur, pencemaran sampah plastik, pertambangan, perdagangan satwa liar ilegal, over-tourism, hingga risiko zoonosis. Oleh karena itu, prioritas pengelolaan ke depan berfokus pada pengendalian alih fungsi lahan, tata kelola pariwisata berkelanjutan, pengarusutamaan kearifan lokal, serta pemantauan intensif terhadap spesies kritis untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di Jawa.