Buku Status Keanekaragaman Hayati Maluku

Wilayah Kepulauan Maluku, yang dikenal sebagai “Spice Islands”, membentang di bagian timur Indonesia dengan luas daratan sekitar 74.505,71 km² yang tersebar di Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Terletak di jantung kawasan Wallacea di antara Garis Wallace dan Weber, kawasan ini menjadi titik temu biota Asia dan Australasia sehingga memiliki tingkat endemisitas yang sangat tinggi. Wilayah perairan Maluku jauh lebih luas daripada daratannya dan terbagi ke dalam empat ekoregion laut (Laut Halmahera, Laut Banda sebelah timur Sulawesi, Laut Banda yang memuat Weber Deep sedalam 7,2 km, serta Laut Arafura). Perairan ini dilintasi Arus Lintas Indonesia (Arlindo) dan merupakan bagian inti dari Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle).

Pengelolaan lingkungan Maluku dibagi menjadi 13 wilayah Ekoregion Darat dengan lima kelompok ekosistem utama: marin (lamun dan terumbu karang), limnik (sungai dan danau), semiterestrial (mangrove dan riparian), terestrial (hutan pamah, pantai, karst, rawa, savana, padang rumput), serta pegunungan. Luas daratan didominasi oleh ekosistem lahan pamah (4,95 juta ha) dan karst (1,95 juta ha), sedangkan di lautan terdapat terumbu karang seluas 183,8 ribu ha dan padang lamun seluas 248 ribu ha.

Kekayaan flora Maluku mencakup 4.383 spesies tumbuhan, dengan komoditas rempah bersejarah seperti pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Syzygium aromaticum) sebagai flagship. Di ranah fauna, tercatat 437 spesies burung (126 endemik), 160 spesies mamalia (~17% endemik), 81 spesies reptil, 19 spesies amfibi, serta ribuan jenis ikan, serangga, dan moluska. Terumbu karang Maluku dihuni oleh 564 spesies karang (67,9% dari spesies dunia) serta menjadi koridor bagi megafauna laut seperti paus biru, dugong, penyu, dan hiu berjalan Halmahera.

Upaya pelestarian dilangsungkan secara in situ melalui 23 Kawasan Suaka Alam dan 7 Kawasan Pelestarian Alam (termasuk Taman Nasional Manusela dan TN Aketajawe Lolobata) dengan total luas 654 ribu ha di darat, serta lebih dari 2,7 juta ha kawasan konservasi perairan. Konservasi juga didukung oleh kearifan lokal tradisi Sasi—seperti di KEE Tanjung Maleo untuk burung gosong Maluku—yang sejalan dengan konsep OECM.

Meskipun kaya, keanekaragaman hayati Maluku menghadapi ancaman serius dari perubahan iklim, hilangnya 194 ribu ha hutan primer akibat konversi lahan dan pertambangan nikel, pencemaran sampah dan merkuri, perdagangan ilegal satwa liar (terutama burung paruh bengkok), spesies asing invasif, overfishing, serta penyakit menular. Langkah strategis ke depan harus berfokus pada pengendalian pertambangan, perikanan berkelanjutan, pelembagaan tradisi Sasi dalam skema resmi, penindakan perdagangan ilegal, serta pemantauan ketat terhadap spesies yang terancam.