Restorasi Ekosistem di Desa Ambarjaya: Menanam Harapan di Kaki Gunung Gede

Oleh: Aristya Tri Rahayu, Afifi Rahmadetiassani, Rizki Mohfar

Gerimis halus menyapa kaki Gunung Gede Pangrango, ketika kami tiba di Dusun Genteng, Desa Ambarjaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di sana, di sebuah rumah sederhana di kaki pegunungan, Kang Dede menyambut kami dengan senyum lebar dan tangan terbuka.

Dede Khoerudin—yang akrab disapa Kang Dede—adalah pedagang tahu di pasar kota Bogor. Setiap hari, sebelum fajar menyingsing, ia telah bersiap mengangkut dagangannya ke pasar. Sekitar pukul delapan atau sembilan pagi, ia telah kembali ke rumah, membawa penghasilan dari jerih lelahnya berdagang.

Namun aktivitas Kang Dede tak berhenti di situ. Ia juga ketua tempat pemakaman umum (TPU) desa. Sesekali dalam sebulan, ia membersihkan area pemakaman dari rumput liar dan semak. Kini, sejak Agustus 2024, aktivitas harian Kang Dede bertambah satu lagi: menanam pohon untuk menyelamatkan tanah kelahirannya.

“Kalau enggak ditanam lagi, lama-lama tanah kita habis. Air makin susah,” ujarnya sambil menunjuk ke lereng yang dulunya gersang, kini mulai menghijau.

Hulu Empat Sungai
Desa Ambarjaya terletak di lanskap penting: kawasan hulu empat daerah aliran sungai besar di Jawa Barat, yakni DAS Cimandiri, Citarum, Cisadane, dan Ciliwung. Dari lanskap Gunung Gede Pangrango, air mengalir menyuplai lebih dari 213 miliar liter per tahun, yang menghidupi hampir 30 juta orang, termasuk penduduk Jakarta.

Namun, tekanan terhadap kawasan ini terus meningkat. Lahan hutan menyempit akibat ekspansi permukiman dan pertanian musiman. Tanpa akar pohon yang kuat, tanah menjadi rentan erosi. Air sulit meresap, dan bencana seperti longsor dan banjir menjadi semakin sering terjadi.

Data dari Konservasi Indonesia (KI) pada 2024 menunjukkan, DAS Cimandiri merupakan wilayah paling kritis dengan 42,5 persen lahan rusak. Diikuti DAS Citarum (23,2%), Cisadane (14,6%), dan Ciliwung (8,3%). Ini menjadi alarm nyata bahwa lanskap hulu harus segera dipulihkan.

Dari Tahu ke Bibit
Melalui program pemulihan ekosistem DAS, Kang Dede kini menyematkan peran baru: petani restorasi. Ia menjadi operator kebun pembibitan yang dibangun oleh KI. Setiap hari, ia merawat bibit pohon—dari persemaian hingga siap tanam.

“Dulu saya cuma tahu cara bikin tahu,” katanya sembari tersenyum. “Sekarang saya bisa meracik media tanam, menyambung pucuk, dan memilih bibit terbaik.”

Di kebun pembibitan seluas setengah hektare itu, lebih dari 14.473 bibit telah diproduksi hingga Februari 2025. Bibit itu akan ditanam di area restorasi seluas 30 hektare, dengan jenis-jenis pohon seperti ki sireum, puspa, manglid, tangkalak, ganitri, hingga durian.

Pohon-pohon tersebut tak hanya bernilai ekologis, tapi juga ekonomi. Sebagian menyuburkan tanah, sebagian mencegah longsor, dan sebagian memberi hasil buah yang bisa dimanfaatkan warga.

Yang menarik, Kang Dede juga menyulap lahan pemakaman seluas 1,5 hektare yang sebelumnya terbengkalai, menjadi lahan penanaman pohon.

“Dulu di sini banyak rumput liar. Setelah diskusi dengan tokoh desa, kami sepakat untuk menanam pohon. Ini bukan untuk saya pribadi, tapi untuk desa,” ujarnya.

Belajar dari Alam
Kang Dede tak sendiri. Ia bekerja bersama Suhaemi, yang lebih dikenal sebagai Kang Irek. Pria ini sebelumnya pernah bekerja di Perum Perhutani, dan sudah akrab dengan dunia kehutanan. Namun, ketika bergabung dengan program restorasi, ia merasakan pendekatan yang berbeda.

“Dulu saya sering menanam damar. Tapi saya heran, kenapa hanya damar? Kenapa enggak ada pohon buah yang bisa dimanfaatkan warga?” tuturnya.

Pertanyaan itu terjawab ketika ia melihat konsep agroforestri diterapkan: kombinasi antara pohon berkayu dengan tanaman produktif seperti alpukat, petai, dan pala.

“Di sini saya belajar banyak. Setiap pohon punya fungsi: ada yang untuk tanah, ada yang untuk air, ada yang untuk ekonomi,” ujarnya.

Lebih dari sekadar menanam, Kang Irek juga aktif dalam gotong royong, memimpin warga menggali lubang, merawat bibit, dan menjaga area tanam.

“Kalau kerja sendiri, bisa sebulan enggak kelar. Tapi kalau semua turun tangan, cepat dan hasilnya terasa,” katanya sambil menunjuk area yang kini mulai menghijau.

Desa yang Berkembang Bersama
Program restorasi bukan hanya mengubah lanskap alam, tapi juga lanskap sosial. Kang Dede, yang sebelumnya hanya mengenal segelintir warga, kini merasa lebih dekat dengan banyak tetangganya.

“Dulu saya enggak banyak kenal warga Ambarjaya. Sekarang karena sering ketemu di kebun bibit atau lahan restorasi, jadi tambah saudara,” ucapnya.

Dan kini, keduanya memiliki mimpi yang sama: menjadikan Ambarjaya sebagai desa buah-buahan, desa yang bukan hanya hijau secara ekologi, tapi juga subur secara sosial dan ekonomi.

“Lima tahun lagi, saya ingin lihat pohon-pohon ini berbuah lebat. Itu hasil kerja keras kami,” ucap Kang Dede penuh harap.

“Dan mudah-mudahan program ini menyebar ke tempat lain,” tambah Kang Irek. “Kalau kita bisa merawat alam, alam pasti akan merawat kita.”

Di bawah langit Ambarjaya, di antara embun dan gerimis yang masih jatuh dari Gunung Gede, mereka terus menanam, pohon demi pohon, harapan demi harapan.