Oleh: Muhammad Gifari dan Aristya Tri Rahayu
Sore merambat turun di Desa Sisarahili, Kecamatan Sawo, Kabupaten Nias Utara. Di bawah kanopi hutan mangrove yang rimbun, perahu kami meluncur pelan, diiringi gemericik air dan kicauan burung yang bersahut-sahutan. Udara terasa lebih sejuk, seolah enggan menyatu dengan terik matahari Sumatra Utara siang itu.
Sungai kecil yang menjadi muara di Teluk Ba’a ini terasa begitu teduh. Cahaya matahari yang menembus celah dedaunan menari di permukaan air, memperlihatkan akar-akar mangrove yang saling berjalin di tepian. Di sela-selanya, ikan kecil dan udang berenang lincah. Kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai biota laut, tempat berkembang biak yang makin langka ditemukan.
“Pak, kawasan mangrove ini masih terjaga dan indah sekali!” seru saya takjub.
“Iya, sebetulnya dulu banyak muara dengan hutan mangrove sebagus ini,” jawab pria paruh baya yang mendayung perahu kami. “Tapi kini banyak yang ditebang, digantikan pohon kelapa. Tinggal muara ini yang terus kami jaga.”
Namanya Manueli Telaumbanua, akrab disapa Ama Winca, atau Bapak Winca. Ia seorang mantan Kepala Desa Sisarahili yang kini lebih dikenal sebagai penjaga hutan mangrove terakhir di wilayah ini. Meski usianya sudah menginjak 60 tahun, semangatnya untuk melestarikan pesisir belum surut. Ia kini memimpin Pokmaswas Teluk Ba’a, kelompok masyarakat pengawas sumber daya kelautan dan perikanan yang dibentuk demi menjaga kawasan ini tetap lestari.

Inisiatif menjaga hutan mangrove bukan hal baru bagi Ama Winca. Sejak jauh sebelum gempa besar mengguncang Nias tahun 2005, ia telah menggerakkan masyarakat lintas desa untuk menanam kembali pohon-pohon mangrove secara swadaya. Mereka menanam propagul—bibit mangrove muda—di enam desa pesisir sekitar.
Aksi itu dilandasi keresahan atas kondisi laut yang semakin gersang. “Dulu kami bisa menangkap ikan tak jauh dari pantai. Tapi sekarang ikan semakin sedikit,” tuturnya lirih.
Situasi makin diperparah oleh fenomena uplift atau kenaikan dasar laut akibat gempa. Banyak terumbu karang naik ke permukaan dan berubah menjadi daratan. Ekosistem mangrove yang bergantung pada zona pasang surut pun terganggu. Banyak pohon yang mati dan mengering. Rehabilitasi menjadi satu-satunya jalan mengembalikan keseimbangan ekosistem.
Namun Ama Winca sadar, perjuangan ini tidak bisa dijalani sendirian. Maka, ketika Konservasi Indonesia (KI) hadir pada penghujung 2023, Ia menyambutnya dengan tangan terbuka.
KI memfasilitasi pembentukan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) pertama di Kabupaten Nias Utara. Ada Pokmaswas Bintang Samudera di Desa Mo’Awo, Pokmaswas BFDT di Balefadorotuho, dan Pokmaswas Teluk Ba’a di Desa Sisarahili Teluk Siabang. Masing-masing terdiri dari 15 anggota yang bekerja secara sukarela, mengawasi dan melindungi sumber daya kelautan dan perikanan di wilayah mereka. Pengakuan resmi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatra Utara turut memperkuat peran mereka.
Salah satu rekan Ama Winca, Ama Cintu atau Serasih Telaumbanua (44), turut menjadi motor penggerak dalam aksi-aksi konservasi. Bersama KI dan pemerintah kabupaten, mereka telah menanam lebih dari 18.000 bibit mangrove di lahan seluas 42 hektare.
Spesies yang ditanam bukan sembarangan. Rhizophora apiculata, yang tahan terhadap salinitas tinggi dan cocok di wilayah berlumpur dan berbatu, dipilih sebagai jenis utama. Adapun Sonneratia alba, tumbuh secara alami sebagai suksesor di substrat karang yang tersingkap pascagempa.

Upaya ini tak berhenti di lapangan. Sebuah kebun bibit mangrove juga dibangun di Desa Sisarahili. Dengan kapasitas 25ribu bibit, kebun ini menjadi pusat pembibitan dan edukasi, sekaligus bentuk keterlibatan masyarakat secara langsung dalam menjaga ekosistem mereka sendiri.
Sore itu, ketika perahu kami keluar dari muara menuju laut lepas, deretan bibit mangrove muda tampak melambai digoyang ombak. Beberapa dari mereka baru sebulan ditanam. Ama Winca menatapnya dengan haru.
“Apa harapan Bapak dari penanaman mangrove ini?” tanya saya, memecah keheningan senja.
“Ini pekerjaan panjang,” jawabnya mantap. “Semoga mangrove terus dijaga hingga generasi mendatang.”
Ia mengangkat wajah, menatap langit jingga. Lalu, seperti menutup satu bab dari perjalanan panjang hari itu, ia berkata pelan, “Sudah sore, mari kita pulang.” Kami pun mengarah kembali ke desa, dengan satu harapan sederhana: agar muara terakhir ini tetap hidup, dan lestari.









