Laporan Sintesis Simposium Lamun Indonesia 2025

Meskipun memiliki nilai ekologis yang tinggi, ekosistem lamun belum selalu mendapatkan perhatian yang proporsional dengan perannya dalam mendukung fungsi ekosistem pesisir dan laut, antara lain melalui perlindungan garis pantai, dukungan terhadap keanekaragaman hayati dan perikanan, penyerapan dan penyimpanan karbon, serta kontribusinya terhadap pariwisata dan penghidupan masyarakat pesisir (Duarte et al., 2025; Unsworth et al., 2022).

Namun, ekosistem lamun di Indonesia menghadapi tekanan antropogenik yang semakin meningkat, termasuk pembangunan pesisir, eutrofikasi, dan sedimentasi, yang telah menyebabkan degradasi dan kehilangan lamun secara luas, bahkan mencapai 80% di beberapa wilayah seperti Kepulauan Bangka (Adi et al., 2024). Ancaman tersebut diperparah oleh keterbatasan data dan tata kelola yang belum efektif, sehingga menghambat upaya konservasi yang terkoordinasi dan efektif.

Sebagai respons terhadap berbagai tantangan tersebut, Konservasi Indonesia (KI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Simposium Lamun Indonesia pada 28–30 Oktober 2025 di Bali, dengan subtema “Mempercepat Pengembangan Sains Lamun melalui Kolaborasi Nasional untuk Perlindungan dan Pengelolaan yang Berkelanjutan di Indonesia.”

Simposium ini bertujuan untuk mengonsolidasikan pengetahuan ilmiah terkini dan mengidentifikasi kesenjangan penelitian terkait ekosistem lamun, mendorong kebijakan konservasi lamun berbasis sains, mengeksplorasi peluang pendanaan yang berkelanjutan dan inovatif, serta memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan.