Sebagai salah satu wilayah yang menjadi pusat keanekaragaman hayati di Pulau Sumatra, Ekosistem Batang Toru (EBT) memiliki nilai ilmiah yang tinggi dan keanekaragaman hayati yang penting untuk dilindungi. Sebagian besar wilayah EBT masuk dalam kategori Kawasan Keanekaragaman Hayati Kunci/Penting (Key Biodiversity Area), yang merupakan salah satu tempat terpenting di dunia dalam perlindungan dan pelestarian spesies beserta habitatnya. Bagi orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang dinyatakan sebagai spesies baru pada tahun 2017 (Nater et al., 2017) dan berstatus konservasi Kritis (Critically Endangered). Menurut IUCN, EBT merupakan satu-satunya tempat tinggal dengan jumlah estimasi populasi ~800 individu (Sloan et al., 2018). Sebaran Orang Utan Tapanuli telah terfragmentasi akibat aktivitas manusia, termasuk oleh jalan lintas Sumatra dan Sungai Batang Toru yang menjadi penghalang utama pergerakan orang utan. Habitat orang utan tapanuli telah terisolasi ke dalam tiga blok di EBT, yaitu Blok Barat, Blok Barat (Selatan), dan Blok Timur. Fragmentasi ini diperparah oleh degradasi hutan dataran rendah, sehingga habitat yang tersisa sebagian besar berada di ketinggian >600 mdpl (Kuswanda, 2014; Working Group of Batang Toru Landscape Management, 2019). Kondisi ini dapat meningkatkan risiko in-breeding, perburuan, dan konflik dengan manusia, yang mempercepat penurunan populasi secara drastis (Meijaard et al., 2021).
Untuk itu maka perlu dilakukan pengamanan terhadap ekosistem hutan Batang Toru melalui Patroli Pengamanan Hutan berbasis SMART. Sistem ini haruslah terintegrasi dan dilakukan secara kolaboratif oleh Dinas Kehutanan, Lingkungan Hidup dan Pertanahan melalui setiap Kesatuan Pengelola Hutan (KPH), mitra pembangunan serta masyarakat dalam hal ini Masyarakat Mitra POLHUT (MMP) yang wilayah kerjanya berada pada ekosistem ini.
Pengembangan sistem patroli berbasis SMART menjadi hal pertama dan krusial yang harus siapkan sehingga dalam setiap patroli yang akan dilakukan mempunyai suatu sistem database pencatatan dan pencapaian patroli yang terdata yang kedepannya dapat dipergunakan sebagai arahan untuk menentukan strategi perlindungan dan pengelolaan ekosistem hutan Batang Toru. Pengembangan sistem patroli ini diharapkan akan terintegrasi dengan sistem SMART BBKSDA Sumatra Utara. Sehingga data yang diperoleh dari setiap patroli akan dikumpulkan disetiap resort dan didistribusikan berjenjang hingga sampai di pengelola data utama di Dinas LHKP Sumatra Utara dan kemudian diintegrasikan dengan data di BBKSDA Sumatra Utara.
Untuk pengembangannya maka diperlukan dukungan konsultan/tenaga ahli untuk merencanakan pengembangan sistem patroli berbasis SMART berikut dengan menyiapkan sistem SMART yang disesuaikan untuk kebutuhan DLHKP Sumatra dan UPT Teknisnya.
Unduh PDF untuk informasi lebih lengkap.




