MEDAN, 24 APRIL 2026 – Perairan barat Sumatra semakin dipandang sebagai kawasan penting dalam upaya konservasi laut Indonesia. Hal ini mengemuka dalam Simposium Data dan Informasi Large Scale Marine Protected Area (LSMPA/Kawasan Konservasi Perairan Skala Besar) yang digelar di Medan, Sumatra Utara, 22–23 April. Forum ini mempertemukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pemerintah daerah, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk memperkuat dasar ilmiah dan tata kelola pengembangan kawasan konservasi laut skala besar.
Simposium ini menjadi bagian dari langkah Indonesia dalam memperluas kawasan konservasi laut melalui visi perlindungan 30 persen wilayah laut pada 2045. Pendekatan LSMPA dinilai penting karena tidak hanya memperluas cakupan kawasan, tetapi juga memastikan pengelolaan yang efektif, terintegrasi, dan berbasis data.
Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Madya, Direktorat Jenderal Pengelolaan Laut KKP, Cora Mustika menegaskan, bahwa pengembangan LSMPA harus selaras dengan arah kebijakan nasional. “LSMPA merupakan kawasan konservasi laut berskala sangat besar seluas 121.691 km² yang mencakup laut terbuka, kolom air, hingga ekosistem laut dalam,” ungkapnya.

Lanjut Cora, penguatan aspek kelembagaan dan kebijakan menjadi krusial mengingat skala LSMPA yang luas dan melibatkan banyak sektor. Integrasi ini juga diperlukan untuk memastikan pengelolaan kawasan berjalan konsisten dari tingkat pusat, daerah, masyarakat, lembaga riset, dan pengawasan terpadu.
“Pengembangan LSMPA di barat Sumatra di atas 12 mil laut yang masuk pada wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) perlu dibarengi dengan penguatan regulasi, integrasi kebijakan perikanan, serta sistem pemantauan dan pendampingan nelayan, agar pengelolaan sumber daya benar-benar terukur dan berkelanjutan,” tutur Cora.
Selain itu, LSMPA juga berfungsi melindungi habitat laut dalam yang kaya keanekaragaman hayati, serta mendukung pemulihan stok ikan melalui efek limpahan ke wilayah sekitar. Dalam skala global, kawasan ini juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, termasuk siklus karbon dan nutrien.
Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, Victor Nikijuluw menekankan, pengembangan LSMPA harus berbasis ilmu dan data yang kuat. Tanpa dasar ilmiah yang kuat, kebijakan berisiko tidak tepat sasaran dan tidak mencerminkan kondisi ekologi di lapangan.

“Kami telah mengintegrasikan data oseanografi, keanekaragaman hayati, dan perikanan untuk mengidentifikasi habitat kunci, jalur migrasi, dan area produktivitas tinggi. Analisis ini menunjukkan keterhubungan kuat antarhabitat, sehingga kawasan perlu dikelola sebagai satu sistem untuk melindungi spesies seperti tuna, hiu, paus, marlin, hingga penyu, sekaligus menjaga area pemijahan dan pembesaran, serta habitat prioritas seperti terumbu karang dangkal dan laut dalam,” papar Victor.
Wilayah barat Sumatra sendiri merupakan bagian penting dari sistem Samudra Hindia timur dengan kondisi lingkungan yang dinamis. Pengaruh angin muson serta fenomena iklim seperti Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Nino memengaruhi kesuburan perairan dan ketersediaan sumber daya laut di kawasan ini.
Kondisi tersebut, menurut Victor, juga berdampak pada sektor perikanan, pada waktu tertentu kondisi laut yang lebih subur meningkatkan ketersediaan pakan alami, yang kemudian memengaruhi distribusi ikan dan hasil tangkapan nelayan. “Kondisi tersebut menjadikan perairan barat Sumatra sebagai wilayah penting bagi produksi perikanan, terutama ikan pelagis seperti tuna yellowfin dan bigeye dan ikan kecil lainnya,” sambungnya.
Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut, Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatra Utara, Fitra Kurnia yang turut hadir pada simposium ini menilai, pengembangan LSMPA penting untuk memastikan pengelolaan perikanan yang lebih terukur. “Perairan barat Sumatra merupakan zona penting perikanan terukur, dengan pengelolaan berbasis kawasan, pemanfaatan sumber daya dapat dikendalikan sehingga stok ikan tetap terjaga dan memberi manfaat jangka panjang untuk penguatan sosial ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan,” katanya.
Tentang Konservasi Indonesia
Konservasi Indonesia (KI) merupakan yayasan nasional yang bertujuan mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan di Indonesia. KI percaya pentingnya kemitraan multi pihak yang bersifat lintas sektor dan yurisdiksi untuk mendukung pelestarian lingkungan di Indonesia. Bermitra dengan Pemerintah dan para mitra, KI merancang dan menghadirkan solusi inovatif berbasis-alam, serta pendekatan strategi pengelolaan bentang alam dan bentang laut yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk menghasilkan dampak positif dalam jangka panjang bagi masyarakat dan alam Indonesia. Untuk mendukung program pelestarian lingkungan di Indonesia: www.konservasi-id.org/kawan-konservasi.
Narahubung:
Event and Media Engagement Coordinator Konservasi Indonesia | Nuniek | 0812-2123-4667









