JAKARTA, 12 FEBRUARI 2026 — Ekspedisi Spesies Laut Bermigrasi 2025 di Bentang Laut Sunda Kecil menorehkan capaian penting dalam riset megafauna laut. Tim peneliti berhasil memasang tag satelit berbasis drone pada paus biru kerdil di Laut Sawu. Data awal menunjukkan paus tersebut menempuh perjalanan lebih dari 2.000-kilometer hanya dalam sembilan hari pemantauan.
Paus biru kerdil itu ditandai pada 13 Oktober 2025, sementara sinyal terakhir diterima pada 22 Oktober 2025. Rekaman pergerakan tersebut memberi gambaran konkret tentang luasnya jelajah spesies ini, sekaligus menegaskan bahwa perlindungan satwa migrasi membutuhkan pendekatan berbasis data dan lintas wilayah.
“Meski hanya satu dari empat tag satelit yang direncanakan berhasil terpasang, tetapi ini dapat membuktikan bahwa pemasangan tag satelit berbasis drone yang lebih less-invasif bisa dilakukan. Metode ini lebih minim risiko dibanding pendekatan konvensional,” kata Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, yang juga menjadi lead dalam ekspedisi ini.
Bentang Laut Sunda Kecil merupakan penghubung Samudra Hindia dan Pasifik yang berada di dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang dunia. Dinamika arus dan topografi bawah lautnya menciptakan wilayah yang produktif dan menjadi jalur migrasi penting bagi paus, lumba-lumba, dan hiu paus.
Selama ini, keterbatasan data membuat banyak kebijakan pengelolaan satwa migrasi disusun dengan informasi yang belum utuh. Jalur migrasi, area istirahat, hingga lokasi penting untuk mencari makan belum sepenuhnya terpetakan.

Ekspedisi ini difasilitasi Konservasi Indonesia dengan melibatkan peneliti dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang, Conservation International Timor Leste, Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Timur, Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku, Elasmobranch Institute Indonesia, James Cook University, Thrive Conservation, Universidade Nacional Timor Lorosa’e, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Universitas Tribuana Kalabahi. Mereka bergabung untuk melakukan pertukaran pengetahuan dan penguatan kapasitas riset kelautan.
Salah satu kunci yang digunakan dalam riset kali ini adalah penggunaan tag satelit berjenis LIMPET. Para peneliti menilai, satellite tracking dengan limpet tag dirancang berdampak minimal bagi paus. Edy Setyawan, peneliti dari Elasmobranch Institute Indonesia menjelaskan, tag yang digunakan dalam ekspedisi ini memiliki dua anak panah sepanjang sekitar tujuh sentimeter, yang saat ditembakkan akan menancap di bawah kulit paus.
“Namun ada tantangan terbesar dalam riset ini, yaitu presisi dan waktu. Hal itu dikarenakan area pemasangan pada tubuh paus hanya terekspos maksimal dua detik di atas permukaan air. Tag itu harus menancap di belakang blowhole dan di depan dorsal fin. Dengan waktu yang hanya sekejap itu, sudah pasti angin, gelombang, dan pergerakan paus akan sangat memengaruhi peluang keberhasilan,” ujar Edy.
Rusydi, perwakilan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Kupang menambahkan, melalui ekspedisi ini para periset juga mencatat adanya variasi perilaku paus biru di beberapa lokasi. Dia menjelaskan, di tenggara Pulau Wetar beberapa paus teramati sedang logging atau beristirahat di permukaan. “Sementara di Laut Sawu, paus cenderung terus bergerak kecuali di area tertentu seperti seamounts. Temuan ini tentu saja memperkaya pemahaman tentang penggunaan habitat oleh paus biru di kawasan timur Indonesia,” tutur dia.
Lebih dari itu, para periset juga mencatat sekitar 10–12 spesies megafauna laut selama ekspedisi. Beberapa perilaku kawin pada spinner dolphin dan melon-headed whale juga terdokumentasi. Informasi tersebut penting untuk memahami musim biologis dan kebutuhan habitat spesies migrasi.
Data pergerakan paus tentunya memiliki implikasi langsung pada kebijakan. Jalur migrasi dapat dibandingkan dengan jalur pelayaran, area penangkapan ikan, dan lokasi rumpon untuk mengidentifikasi potensi tumpang tindih dan risiko bagi paus. “Wilayah dengan tingkat sighting tinggi perlu pengelolaan khusus. Data ini membantu penyusunan kebijakan wisata pengamatan paus agar tetap berkelanjutan dan tidak mengganggu satwa,” kata Rusydi.

Dalam ekspedisi, Konservasi Indonesia juga tidak hanya ingin mendapat temuan baru, namun juga memperkuat kerja sama penelitian kelautan yang kelak memberi manfaat strategis bagi kawasan. Pengetahuan yang dibangun bersama dapat memperkuat kapasitas pengelolaan sumber daya laut di masing-masing negara. Seperti yang diungkapkan oleh Jafet Potenzo, Marine Science Specialist Conservation International Timor-Leste, yang menilai kolaborasi ilmiah seperti ini memperkuat hubungan dan pembelajaran di kawasan.
“Melalui ekspedisi ini, kami telah membangun kemitraan dan kerja sama yang kuat antara Indonesia dan Timor-Leste. Ekspedisi ini menunjukkan kepercayaan dan penguatan hubungan kedua negara melalui riset ilmiah di sepanjang perbatasan laut, di dalam koridor cetacean saat musim migrasi. Ini juga menjadi kesempatan berharga bagi masyarakat Timor-Leste untuk belajar mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ke depan, sambung Iqbal, data satelit seperti ini diharapkan bisa membantu mengidentifikasi area penting bagi paus biru kerdil, termasuk jalur migrasi utama dan wilayah yang perlu perhatian pengelolaan. Informasi ini menjadi fondasi bagi kebijakan konservasi sekaligus pengembangan ekonomi biru yang lebih terarah. Menurutnya, survei ini membantu membangun baseline kemunculan dan sebaran spesies migrasi di Bentang Laut Sunda Kecil.
“Data ilmiah adalah fondasi. Dari sana kita bisa merancang pengelolaan dan ekowisata yang bertanggung jawab. Tujuannya memastikan pemanfaatan laut berjalan seiring dengan perlindungan satwa dan ekosistemnya. Kami yakin, perpaduan sains dan teknologi mampu membuka pemahaman baru tentang pergerakan raksasa laut. Data yang terkumpul diharapkan menjadi pijakan pengelolaan laut yang lebih presisi agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga bagi generasi mendatang,” kata Iqbal.
*Simak perjalanan dan kesaksian langsung dari para periset dalam ekspedisi ini di: bit.ly/EkspedisiSpesiesBermigrasi
Foto: Dok.Konservasi Indonesia
Tentang Konservasi Indonesia
Konservasi Indonesia (KI) merupakan yayasan nasional yang bertujuan mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan di Indonesia. KI percaya pentingnya kemitraan multi pihak yang bersifat lintas sektor dan yurisdiksi untuk mendukung pelestarian lingkungan di Indonesia. Bermitra dengan Pemerintah dan para mitra, KI merancang dan menghadirkan solusi inovatif berbasis-alam, serta pendekatan strategi pengelolaan bentang alam dan bentang laut yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk menghasilkan dampak positif dalam jangka panjang bagi masyarakat dan alam Indonesia. Informasi lebih lanjut: www.konservasi-id.org
Narahubung Media:
Megiza, Event and Media Engagement Manager Konservasi Indonesia | mmegiza@konservasi-id.org | +62819-3223-3023









