Survei Udara: 93% Hotspot Habitat Paus dan Lumba-lumba di Perairan Barat Sumatra Patut Dilindungi

JAKARTA, 14 JANUARI 2026 — Paus dan lumba-lumba merupakan spesies laut dengan jangkauan jelajah luas, perilaku migrasi kompleks, dan tingkat keterdeteksian rendah, sehingga penelitian distribusi dan habitatnya menghadapi tantangan besar, terutama di wilayah laut lepas yang terpencil dan berbiaya tinggi untuk penelitian. Kondisi tersebut selama ini membatasi ketersediaan data ilmiah yang dibutuhkan untuk pengelolaan dan konservasi yang efektif di perairan Indonesia.

Namun tantangan itu akhirnya terjawab melalui ekspedisi OceanX Indonesia Mission yang dilakukan pada pertengahan 2024 lalu, melalui survei transek udara khusus mamalia laut (cetacean) pertama di perairan barat Sumatra. Wilayah yang masuk ke dalam perairan barat Sumatra di Samudra Hindia itu selama ini relatif kurang dipelajari meskipun diakui memiliki nilai keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Hasil survei ekspedisi OceanX Indonesia Mission baru saja dipublikasikan dalam Frontiers in Marine Science.

Dilaksanakan antara Mei hingga Juli 2024, survei yang mencakup 15.043-kilometer (setara jarak dari Bali ke Kanada) melakukan pengamatan dan mencatat 77 sighting dari 10 spesies cetacean, termasuk konfirmasi udara pertama paus pembunuh (killer whale) dan paus pembunuh kerdil (pygmy killer whale) di wilayah barat Indonesia. Dengan mengintegrasikan data historis, jumlah spesies cetacean yang terdokumentasi di kawasan ini kini mencapai 23 spesies, atau 68 persen dari total cetacean yang diketahui di Indonesia.

Analisis pola sebaran cetacean menunjukkan adanya tujuh klaster habitat berbeda, yang terbentuk akibat perbedaan bentuk dasar laut dan tingkat produktivitas perairan. Temuan ini menegaskan bahwa dinamika oseanografi memainkan peran penting dalam menentukan wilayah yang dimanfaatkan paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatra.

Hotspot kepadatan tinggi, yang didominasi oleh spinner dolphin dan striped dolphin, teridentifikasi terutama di luar kawasan konservasi. Sebanyak 93 persen hotspot berada di luar kawasan konservasi laut yang ada maupun yang diusulkan. Peneliti dalam studi ini mengidentifikasi hal tersebut sebagai penanda ketidaksesuaian antara jejaring kawasan konservasi saat ini dan distribusi aktual habitat penting cetacean, khususnya di wilayah offshore.

Pemodelan spasial juga menunjukkan tumpang tindih yang signifikan antara habitat cetacean dengan aktivitas perikanan intensif dan lalu lintas maritim, yang berpotensi meningkatkan risiko bagi spesies tertentu seperti paus pembunuh, paus Omura, dan paus sperma, yang masuk dalam kategori spesies terancam punah.

“Survei ini mengisi kekosongan data yang selama ini membatasi pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia,” ujar Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia dan penulis utama studi. “Skala dan kualitas data ini memungkinkan perencanaan konservasi yang benar-benar berbasis bukti.”

Konservasi Indonesia, yang berkolaborasi dengan OceanX dan BRIN dalam ekspedisi ini, menilai temuan tersebut menegaskan kebutuhan akan perlindungan spasial yang terarah, perencanaan ruang laut adaptif, serta langkah mitigasi spesifik per spesies sebagai pelengkap upaya perluasan kawasan konservasi laut Indonesia menuju target 30×45. Adapun, temuan ini juga memperkuat pelaksanaan program inisiatif nasional Blue Halo S, yang fokus pada penguatan tata kelola perikanan, perlindungan habitat laut penting, serta pengembangan ekonomi biru berkelanjutan di perairan barat Sumatra.

Menurut Victor Nikijuluw, Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, “Studi ini menyediakan baseline ekologi yang krusial dan secara presisi mengidentifikasi area prioritas, sehingga perlindungan dapat dirancang selaras dengan keberlanjutan pemanfaatan laut.” Dia menambahkan, wilayah barat Sumatra dinilai memiliki dasar ilmiah yang kuat untuk diusulkan sebagai Important Marine Mammal Area (IMMA), sejalan dengan statusnya sebagai Ecologically or Biologically Significant Marine Area (EBSA).

Senada dengan hal itu, Pemerintah menyambut baik hasil penelitian ini. Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN Nugroho Dwi Hananto menyatakan, “Ketersediaan dan dan informasi ilmiah yang sahih sangat penting guna memberikan masukan bagi Pemerintah dalam upaya merancang intervensi yang relevan dan dapat diimplementasikan secara efektif. Dalam bidang riset ilmiah kelautan, penyediaan armada kapal riset dengan berbagai peralatan riset canggih menjadi penting guna mengumpulkan data dan informasi tentang keanekaragaman biodiversitas dan sumber daya laut di Indonesia. Kerja sama penggunaan Kapal Riset RV OceanXploration milik OceanX dengan melibatkan para periset dari BRIN, Konservasi Indonesia, dan perguruan tinggi kini telah menghasilkan temuan penting yang akan berdampak signifikan.”

Adapun, Vincent Pieribone, Co-CEO dan Chief Science Officer OceanX melihat hasil studi ini sebagai kekuatan eksplorasi multi-platform di mana perangkat canggih dipadukan dengan kemampuan penelitian ilmiah yang kuat. “OceanX mendukung misi ini dengan mengintegrasikan operasi penerbangan, kapal, dan sistem data sehingga pengamatan udara dapat dihubungkan dengan informasi oseanografi dan dasar laut secara waktu nyata. Kemampuan tersebut membantu tim membangun gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana paus dan lumba-lumba memanfaatkan wilayah lepas pantai yang terpencil ini. Kami berterima kasih dapat bekerja bersama tim Konservasi Indonesia, yang keahliannya membimbing penelitian ini sejak tahap perancangan hingga publikasi hasil. Temuan-temuan ini memperdalam basis data ilmiah untuk memahami ekosistem Sumatra bagian barat, dan kami bangga dapat berkontribusi pada sebuah studi yang memperkuat pengetahuan bagi pengelolaan laut jangka panjang,” tuturnya.

Foto: Dok.OCEANX

 

Tentang Konservasi Indonesia

Konservasi Indonesia (KI) merupakan yayasan nasional yang bertujuan mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan di Indonesia. KI percaya pentingnya kemitraan multi pihak yang bersifat lintas sektor dan yurisdiksi untuk mendukung pelestarian lingkungan di Indonesia. Bermitra dengan Pemerintah dan para mitra, KI merancang dan menghadirkan solusi inovatif berbasis-alam, serta pendekatan strategi pengelolaan bentang alam dan bentang laut yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk menghasilkan dampak positif dalam jangka panjang bagi masyarakat dan alam Indonesia. Informasi lebih lanjut: www.konservasi-id.org

 

Narahubung Media:

Event and Media Engagement Manager Konservasi Indonesia | Megiza | mmegiza@konservasi-id.org